Pemuda Ashabul Kahfi (Bagian II): Bukti Kekuasaan Allah dan Pelajaran Abadi bagi Orang Beriman
Kajian Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surah Al-Kahfi Ayat 20–26
Pendahuluan

Perjalanan kisah Ashabul Kahfi tidak berhenti ketika Allah menidurkan para pemuda beriman di dalam gua. Justru setelah mereka dibangunkan, Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang semakin nyata. Kebangkitan mereka menjadi bukti bahwa Allah mampu menjaga manusia selama ratusan tahun tanpa mengalami kerusakan sedikit pun. Peristiwa luar biasa ini sekaligus menjadi hujah bagi manusia tentang kebenaran hari kebangkitan setelah kematian.
Menurut penjelasan Ibnu Katsir, bagian akhir kisah Ashabul Kahfi bukan sekadar menceritakan lamanya mereka tertidur, tetapi juga mengandung pelajaran tentang keimanan, adab dalam berbicara, serta pentingnya menyerahkan perkara gaib kepada Allah semata.
Kekhawatiran Para Pemuda Setelah Terbangun
Setelah Allah membangunkan mereka, para pemuda itu mengira bahwa mereka hanya tertidur dalam waktu yang sangat singkat. Karena rasa lapar mulai terasa, mereka sepakat mengutus salah seorang di antara mereka untuk membeli makanan dengan membawa uang perak yang masih tersisa.
Sebelum berangkat, teman-temannya berpesan agar ia berhati-hati dan tidak sampai diketahui oleh masyarakat. Mereka menyadari bahwa apabila keberadaan mereka diketahui, para penguasa yang masih memusuhi orang-orang beriman dapat menangkap, menyiksa, bahkan memaksa mereka kembali kepada agama nenek moyang yang penuh kemusyrikan. Bagi mereka, kehilangan nyawa lebih ringan daripada kehilangan iman. Sebab, kembali kepada kekafiran berarti kehilangan keselamatan dunia dan akhirat.
Kota yang Telah Berubah
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pemuda yang diutus membeli makanan sama sekali tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu selama lebih dari tiga abad. Ketika memasuki kota, ia mendapati suasana yang sangat berbeda dari yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah penduduk telah berganti, bangunan mengalami perubahan, bahkan sistem pemerintahan pun tidak lagi sama.
Awalnya ia mengira dirinya sedang bermimpi atau mengalami gangguan pikiran. Namun, setelah memperhatikan keadaan sekitar, ia menyadari bahwa kota yang dahulu ia tinggalkan bukan lagi kota yang sama. Seluruh generasi telah silih berganti sehingga tidak seorang pun mengenalnya.
Dirham Kuno yang Mengungkap Sebuah Keajaiban
Keanehan semakin tampak ketika ia menggunakan uang perak yang dibawanya untuk membeli makanan. Para pedagang terkejut melihat mata uang tersebut karena berasal dari masa yang telah lama berlalu. Mereka menduga bahwa pemuda itu menemukan harta karun peninggalan zaman dahulu.
Kejadian tersebut akhirnya menarik perhatian masyarakat hingga ia dibawa menghadap penguasa. Setelah mendengar kisahnya, sang penguasa beserta penduduk kota menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa Allah mampu menghidupkan kembali manusia sebagaimana Dia membangunkan para penghuni gua setelah ratusan tahun tertidur.
Bukti Kebenaran Hari Kebangkitan
Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah memperlihatkan Ashabul Kahfi kepada masyarakat pada masa itu agar manusia tidak lagi meragukan adanya hari kebangkitan. Pada masa tersebut memang terdapat perbedaan pendapat mengenai kebangkitan manusia. Sebagian meyakini bahwa hanya ruh yang akan dibangkitkan, sedangkan jasad tidak.
Melalui kisah Ashabul Kahfi, Allah menunjukkan bahwa Dia mampu menjaga tubuh manusia dalam waktu yang sangat panjang, kemudian menghidupkannya kembali dalam keadaan utuh. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi manusia untuk meragukan kekuasaan Allah dalam membangkitkan seluruh makhluk pada hari kiamat.
Sikap Manusia terhadap Ashabul Kahfi
Setelah mengetahui kisah para pemuda tersebut, masyarakat berbeda pendapat mengenai apa yang harus dilakukan terhadap gua tempat mereka beristirahat. Sebagian mengusulkan agar gua itu ditutup dan dibiarkan sebagaimana adanya. Sementara kelompok yang memiliki kekuasaan menghendaki pembangunan tempat ibadah di atasnya.
Ibnu Katsir kemudian mengingatkan bahwa tindakan menjadikan kuburan orang saleh sebagai tempat ibadah bukanlah sesuatu yang dipuji dalam syariat Islam. Beliau mengutip hadis Nabi ﷺ yang melarang umat Islam mengikuti kebiasaan sebagian umat terdahulu yang menjadikan makam para nabi dan orang-orang saleh sebagai tempat peribadatan. Dengan demikian, kisah Ashabul Kahfi tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan praktik tersebut.
Jangan Berselisih tentang Hal yang Tidak Dijelaskan Allah
Al-Qur'an juga mengabadikan adanya perbedaan pendapat mengenai jumlah Ashabul Kahfi. Ada yang mengatakan tiga orang dan yang keempat seekor anjing, ada yang mengatakan lima orang dan yang keenam seekor anjing, dan ada pula yang menyebut tujuh orang dan yang kedelapan seekor anjing sebagai pendamping mereka.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur'an secara halus menunjukkan kelemahan dua pendapat pertama karena hanya berupa dugaan terhadap perkara gaib. Adapun pendapat terakhir lebih kuat karena penyebutannya tidak disertai penolakan sebagaimana dua pendapat sebelumnya. Meski demikian, Allah tetap mengajarkan bahwa perkara-perkara gaib yang tidak membawa manfaat besar tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Yang lebih utama adalah mengambil hikmah dari kisah mereka daripada sibuk memperdebatkan jumlahnya.
Pelajaran Mengucapkan "Insya Allah"
Salah satu pelajaran penting dalam rangkaian kisah ini adalah adab ketika berbicara mengenai rencana masa depan. Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ agar tidak mengatakan akan melakukan sesuatu pada hari esok tanpa mengucapkan, "Insya Allah."
Ibnu Katsir menerangkan bahwa segala sesuatu terjadi semata-mata karena kehendak Allah. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya menggantungkan setiap rencana kepada izin-Nya. Apabila seseorang lupa mengucapkannya, maka dianjurkan segera mengingat Allah ketika teringat kembali.
Ayat ini juga mengajarkan bahwa manusia tidak pernah memiliki kepastian terhadap masa depan. Perencanaan yang baik tetap harus dibarengi dengan kesadaran bahwa keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Allah.
Tiga Ratus Sembilan Tahun dalam Gua
Allah kemudian menjelaskan bahwa para penghuni gua tinggal selama tiga ratus sembilan tahun. Ibnu Katsir menerangkan bahwa angka tersebut sesuai dengan perhitungan tahun qamariah, sedangkan tiga ratus tahun merupakan hitungan berdasarkan kalender syamsiah. Perbedaan itu menunjukkan ketelitian Al-Qur'an dalam menyampaikan informasi.
Setelah menyebutkan lamanya mereka tinggal, Allah menegaskan bahwa hanya Dia yang mengetahui seluruh perkara gaib di langit dan di bumi. Karena itu, apabila manusia tidak memiliki ilmu yang pasti tentang suatu perkara, maka sikap terbaik adalah mengembalikan pengetahuannya kepada Allah tanpa membuat dugaan yang tidak berdasar.
Hikmah bagi Generasi Muslim
Bagian akhir kisah Ashabul Kahfi memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kehidupan umat Islam. Di antaranya adalah keberanian mempertahankan akidah, keyakinan terhadap hari kebangkitan, kehati-hatian dalam menyampaikan perkara gaib, pentingnya mengucapkan "Insya Allah" ketika merencanakan sesuatu, serta keyakinan bahwa seluruh urusan berada dalam kekuasaan Allah.
Para pemuda penghuni gua menjadi teladan bahwa iman yang kokoh akan selalu mendapatkan penjagaan dari Allah, sekalipun pertolongan itu datang melalui cara yang tidak pernah dibayangkan manusia.
Penutup
Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surah Al-Kahfi ayat 20–26 menunjukkan bahwa kisah Ashabul Kahfi bukan sekadar catatan sejarah tentang pemuda yang tertidur selama ratusan tahun. Kisah ini merupakan pelajaran akidah yang mengajarkan keteguhan iman, keyakinan terhadap kehidupan akhirat, serta adab seorang mukmin dalam menyikapi perkara yang belum diketahuinya.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi berbagai tantangan terhadap keimanan, teladan Ashabul Kahfi tetap relevan. Mereka mengajarkan bahwa menjaga keyakinan kepada Allah lebih berharga daripada mempertahankan kedudukan, kekayaan, bahkan keselamatan diri. Orang yang menggantungkan seluruh urusannya kepada Allah akan selalu memperoleh bimbingan, perlindungan, dan pertolongan sesuai dengan hikmah yang telah ditetapkan-Nya.
Referensi
- Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran Surah Al-Kahfi ayat 19–26.
Oleh : Adzhan Mahdi