Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihimassalam dalam Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-Kahfi: 60–82)

Kategori : Umrah, Sejarah, Kisah Nabi, Travel Umroh Lamongan, Sejarah Islam, Travel Umroh Gresik, Ditulis pada : 07 Juli 2026, 14:32:30

Allah ta’ala mengisahkan perjalanan Nabi Musa `alaihis salam dalam mencari seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus dari sisi-Nya, yaitu Nabi Khidir. Kisah ini menjadi pelajaran besar tentang adab menuntut ilmu, keterbatasan pengetahuan manusia, kesabaran, dan hikmah di balik ketetapan Allah yang terkadang tidak dapat dipahami oleh akal manusia secara langsung. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan kisah ini dengan menyertakan riwayat-riwayat sahih dari Rasulullah ﷺ, penjelasan para sahabat, tabi'in, dan para ulama.

Perjalanan Nabi Musa Menuju Pertemuan Dua Laut

Allah menceritakan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam berkata kepada muridnya, Nabi Yusya' bin Nun ‘alaihissalam, bahwa ia tidak akan berhenti berjalan hingga mencapai pertemuan dua laut, meskipun harus menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Menurut Qatadah dan beberapa ulama, yang dimaksud dengan dua laut adalah Laut Persia di sebelah timur dan Laut Romawi di sebelah barat. Sementara Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi berpendapat bahwa tempat tersebut berada di Thanjah (Tangier), di ujung negeri Maroko.

Tentang kata "huquban", Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa menurut sebagian ahli bahasa Arab berarti satu tahun, sedangkan Abdullah bin 'Amr berpendapat bahwa huqub berarti delapan puluh tahun. 

Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam membawa seekor ikan asin sebagai tanda. Apabila ikan tersebut hilang, maka di situlah berada hamba Allah yang memiliki ilmu khusus.

Ketika Nabi Musa dan Nabi Yusya' ‘alaihimassalam beristirahat di dekat batu, keduanya tertidur. Di tempat itu terdapat Mata Air Kehidupan, sehingga ikan yang terkena percikan air hidup kembali dan melompat ke laut. Yusya' melihat kejadian tersebut, tetapi lupa memberitahukannya kepada Musa karena setan membuatnya lupa.

Ibnu Abbas melalui riwayat Ibnu Juraij menjelaskan bahwa bekas jalan ikan di laut tampak seperti batu. Dalam riwayat Al-'Aufi dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa setiap tempat yang dilewati ikan berubah menjadi batu.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah menahan air sehingga jalan ikan tampak seperti lorong di lautan. 

Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir ‘alaihimassalam

Setelah kembali ke tempat hilangnya ikan, Musa dan Yusya' bertemu dengan seorang hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu dari sisi-Nya, yaitu Khidir.

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Ubay bin Ka'ab melalui Ibnu Abbas bahwa Nabi Musa pernah ditanya siapakah manusia yang paling berilmu. Musa menjawab bahwa dirinya yang paling berilmu. Allah kemudian menegurnya karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Allah lalu memberitahukan bahwa ada seorang hamba-Nya yang lebih mengetahui beberapa perkara yang tidak diketahui Musa. Oleh sebab itu Musa diperintahkan mencarinya dengan membawa seekor ikan sebagai tanda.

Hadis ini menjadi dasar bahwa Musa yang dimaksud benar-benar Nabi Musa dari Bani Israil, sekaligus membantah pendapat Nauf al-Bikali yang menyatakan sebaliknya. Ketika mendengar pendapat tersebut, Ibnu Abbas berkata, "Musuh Allah itu telah berdusta." 

Musa mendatangi Khidir dengan penuh kerendahan hati seraya berkata:

"Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu?"

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ucapan Musa merupakan contoh sempurna adab seorang penuntut ilmu kepada gurunya. Musa tidak memerintah atau memaksa, tetapi meminta izin dengan penuh kelembutan.

Khidir menjelaskan bahwa Musa tidak akan mampu bersabar, karena Musa akan melihat berbagai tindakan yang secara lahiriah bertentangan dengan syariat yang diketahuinya, sedangkan Khidir bertindak berdasarkan ilmu yang Allah ajarkan kepadanya secara khusus.

Musa kemudian berjanji akan bersabar dan tidak akan membantah sedikit pun. Namun Khidir memberikan syarat agar Musa tidak bertanya sebelum ia sendiri menjelaskan hikmah di balik setiap perbuatannya. 

Melubangi Perahu

Peristiwa pertama yang disaksikan Musa adalah ketika Khidir melubangi sebuah perahu milik orang-orang miskin yang telah mengangkut mereka tanpa meminta upah.

Musa langsung mengingkari tindakan tersebut karena menurut syariat tampak sebagai perbuatan yang merugikan pemilik perahu.

Khidir mengingatkan Musa bahwa ia telah mengatakan sebelumnya bahwa Musa tidak akan mampu bersabar.

Musa kemudian memohon maaf karena lupa terhadap syarat yang telah disepakati.

Dalam hadis, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa teguran pertama Musa terjadi karena lupa.

Khidir juga memberi perumpamaan kepada Musa ketika seekor burung mengambil sedikit air laut dengan paruhnya. Ia berkata bahwa ilmu dirinya dan ilmu Musa dibandingkan ilmu Allah hanyalah seperti setetes air yang diambil burung dari lautan yang luas. 

Membunuh Seorang Anak

Peristiwa kedua lebih berat lagi. Khidir membunuh seorang anak kecil yang sedang bermain.

Musa segera mengingkari tindakan tersebut dan berkata bahwa Khidir telah membunuh jiwa yang tidak berdosa.

Khidir kembali mengingatkan Musa tentang syarat yang telah disepakati.

Musa kemudian berkata bahwa jika ia bertanya lagi setelah itu, maka Khidir tidak perlu lagi mengizinkannya menjadi teman perjalanan.

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui Ubay bin Ka'ab, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa anak yang dibunuh Khidir telah ditetapkan oleh Allah sejak awal sebagai seorang kafir.

Khidir kemudian menjelaskan bahwa kedua orang tua anak tersebut adalah orang-orang mukmin. Allah mengetahui bahwa apabila anak itu hidup dewasa, ia akan menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran dan kedurhakaan. Karena itu Allah menghendaki agar mereka diganti dengan anak yang lebih saleh dan lebih penyayang.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa seorang mukmin hendaknya ridha terhadap ketetapan Allah, karena sering kali sesuatu yang tidak disukai ternyata lebih baik daripada yang disukai. Beliau menguatkannya dengan hadis Rasulullah ﷺ:

"Allah tidak menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin melainkan itu adalah kebaikan baginya."

Qatadah menjelaskan bahwa anak pengganti tersebut lebih berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ibnu Juraij bahkan menyebutkan bahwa ketika anak itu dibunuh, ibunya sedang mengandung seorang anak laki-laki yang muslim. 

Menegakkan Dinding Dua Anak Yatim

Peristiwa terakhir terjadi ketika Musa dan Khidir memasuki sebuah negeri. Penduduknya menolak menjamu mereka.

Di negeri itu Khidir melihat sebuah dinding yang hampir roboh, lalu ia menegakkannya tanpa meminta upah.

Musa kembali bertanya mengapa Khidir tidak meminta bayaran, padahal penduduk negeri itu sangat kikir.

Khidir menjelaskan bahwa dinding tersebut milik dua anak yatim. Di bawahnya tersimpan harta peninggalan mereka. Ayah kedua anak itu adalah seorang yang saleh. Allah menghendaki agar harta tersebut tetap terjaga hingga keduanya dewasa sehingga mereka dapat mengambilnya sendiri. Pada saat itulah Musa dan Khidir berpisah.H

Tentang makna "harta simpanan", terdapat beberapa pendapat:

  1. 'Ikrimah, Qatadah, dan beberapa ulama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah harta yang dipendam.
  2. Ibnu Abbas melalui Al-'Aufi berpendapat bahwa yang dimaksud adalah simpanan ilmu.
  3. Sa'id bin Jubair juga berpendapat demikian.
  4. Mujahid mengatakan bahwa simpanan tersebut berupa lembaran-lembaran berisi ilmu.

Dalam riwayat Al-Bazzar dari Abu Dzar, disebutkan sebuah hadis bahwa simpanan itu berupa lempengan emas yang berisi nasihat tentang takdir, kematian, dan akhirat.

Al-Hasan al-Bashri juga meriwayatkan atsar yang berisi kalimat-kalimat hikmah serupa mengenai takdir, kematian, dan kehidupan dunia. 

Kesalehan Orang Tua Menjadi Sebab Terjaganya Anak

Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa kesalehan orang tua menjadi sebab Allah menjaga anak-anaknya.

Sa'id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kedua anak yatim tersebut dipelihara Allah karena kesalehan ayah mereka, bahkan disebutkan bahwa ayah tersebut adalah keturunan saleh hingga tujuh generasi sebelumnya. 

Kedudukan Khidir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa banyak ulama berpendapat Khidir adalah seorang nabi, berdasarkan firman Allah bahwa beliau diberi rahmat dan ilmu dari sisi Allah serta penjelasannya bahwa seluruh tindakannya dilakukan berdasarkan perintah Allah, bukan atas kemauannya sendiri.

Sebagian ulama berpendapat Khidir adalah seorang rasul.

Al-Mawardi menukil pendapat lain yang mengatakan bahwa Khidir adalah malaikat.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Khidir hanyalah seorang wali.

Mengenai apakah Khidir masih hidup hingga sekarang, an-Nawawi dan Ibnu Shalah cenderung berpendapat bahwa beliau masih hidup. Akan tetapi, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hadis-hadis yang dijadikan dasar pendapat tersebut tidak ada yang sahih. Beliau lebih menguatkan pendapat bahwa Khidir telah wafat dengan berdalil kepada firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 34 dan beberapa hadis Nabi ﷺ yang menunjukkan tidak adanya manusia yang hidup kekal di dunia. 

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihimassalam mengajarkan bahwa ilmu Allah jauh melampaui ilmu seluruh makhluk. Seorang penuntut ilmu harus memiliki adab, kerendahan hati, dan kesabaran. Banyak ketetapan Allah yang pada awalnya tampak tidak dapat dipahami, namun setelah hikmahnya dijelaskan, semuanya menunjukkan kasih sayang dan kebijaksanaan Allah. Kisah ini juga mengajarkan pentingnya kesalehan orang tua, ridha terhadap takdir Allah, serta keyakinan bahwa seluruh keputusan Allah pasti mengandung kebaikan meskipun manusia belum mampu memahaminya. 

Yuk, bergabung bersama Hanah Tour dan wujudkan impian beribadah di Tanah Suci bersama orang-orang tercinta.

Referensi : Tafsir Ibnu Katsir, surat Al-Kahfi : 60-82

Oleh : Adzhan Mahdi, Lc

>>>>> HUBUNGI KAMI <<<<<

 

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://safar.co.id