Kisah Dzulqarnain dalam Tafsir Ibnu Katsir (QS. Al-Kahfi: 83–98)
Allah ta’ala mengisahkan tentang Dzulqarnain setelah orang-orang musyrik Makkah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai dirinya. Pertanyaan tersebut merupakan usulan dari Ahlul Kitab sebagai ujian terhadap kenabian Rasulullah ﷺ. Melalui kisah ini Allah ta’ala menjelaskan kepemimpinan seorang hamba yang diberi kekuasaan, ilmu, serta kemampuan menegakkan keadilan di muka bumi.
Siapakah Dzulqarnain?
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Dzulqarnain diberi nama demikian karena ia merupakan seorang raja yang menguasai wilayah Romawi dan Persia. Sebagian ulama mengatakan bahwa di kepalanya terdapat sesuatu yang menyerupai dua tanduk. Pendapat lain menyebutkan bahwa ia dinamakan Dzulqarnain karena berhasil mencapai belahan bumi bagian barat dan timur, yaitu tempat terbenam dan terbitnya matahari.
Allah ta’ala memberikan kepadanya kekuasaan yang sangat besar berupa bala tentara, perlengkapan perang, benteng-benteng, serta berbagai sarana yang menjadikannya mampu menaklukkan banyak negeri.
Mengenai firman Allah ta’ala :
"Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu."
Ibnu 'Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah, as-Suddi, Qatadah, adh-Dhahhak, dan ulama lainnya menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan.
Qatadah juga mengatakan bahwa Allah ta’ala memberikan kepadanya tempat-tempat tinggal di bumi beserta jalan-jalannya.
Sedangkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berpendapat bahwa yang dimaksud adalah pengajaran berbagai bahasa sehingga Dzulqarnain dapat berbicara kepada setiap kaum dengan bahasa mereka sendiri.
Perjalanan Menuju Barat
Allah ta’ala kemudian menceritakan bahwa Dzulqarnain menempuh suatu jalan hingga mencapai tempat paling barat yang dapat ditempuh manusia.
Ibnu 'Abbas menafsirkan kata as-sabab sebagai tempat.
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah jalan antara timur dan barat.
Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah, 'Ubaid bin Ya'la, dan as-Suddi menafsirkannya sebagai ilmu pengetahuan dan tanda-tanda perjalanan.
Ketika sampai di ujung barat, Dzulqarnain melihat matahari seakan-akan terbenam di laut yang berlumpur hitam. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan penglihatan manusia ketika memandang matahari dari tepi pantai, bukan berarti matahari benar-benar masuk ke dalam laut, karena matahari tetap berjalan pada orbitnya.
Tentang makna 'ainin hami'ah:
- Ibnu 'Abbas menafsirkannya sebagai laut yang berlumpur hitam.
- Melalui riwayat 'Ali bin Abi Thalhah, Ibnu 'Abbas juga mengatakan bahwa matahari terbenam di laut yang panas.
- Pendapat yang sama dikemukakan oleh Al-Hasan al-Bashri.
- Ibnu Jarir menjelaskan bahwa kedua qiraat tersebut sama-sama benar dan tidak saling bertentangan, karena air tersebut bisa saja panas sekaligus berlumpur hitam.
Keadilan Dzulqarnain
Allah ta’ala memberi pilihan kepada Dzulqarnain untuk menghukum atau berbuat baik kepada penduduk negeri tersebut.
Dzulqarnain berkata bahwa orang-orang zalim akan dihukum di dunia, kemudian kelak di akhirat akan memperoleh azab yang lebih pedih dari Allah. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan memperoleh balasan terbaik serta diperlakukan dengan baik.
Qatadah menafsirkan bahwa hukuman bagi orang-orang zalim adalah dibunuh.
Sedangkan Mujahid menafsirkan firman Allah ta’ala : "dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah" sebagai perkataan yang baik.
Perjalanan Menuju Timur
Selanjutnya Dzulqarnain menuju belahan timur bumi hingga menemukan suatu kaum yang hidup tanpa bangunan maupun pepohonan yang melindungi mereka dari panas matahari.
Sa'id bin Jubair menjelaskan bahwa mereka berkulit merah, bertubuh pendek, tinggal di gua-gua, dan makanan mereka adalah ikan.
Ibnu Jarir menerangkan bahwa mereka tidak memiliki bangunan. Ketika matahari terbit mereka masuk ke tempat tinggal atau ke laut hingga matahari tidak lagi menyengat, karena di wilayah mereka tidak terdapat gunung.
Mengenai firman Allah:
"Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya."
Mujahid dan as-Suddi menjelaskan bahwa Allah ta’ala mengetahui seluruh keadaan Dzulqarnain beserta bala tentaranya, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Membangun Dinding Penghalang Ya'juj dan Ma'juj
Perjalanan berikutnya membawa Dzulqarnain sampai di antara dua gunung. Di sana ia bertemu dengan suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan karena perbedaan bahasa dan jauhnya tempat tinggal mereka dari masyarakat lainnya.
Mereka mengadukan bahwa Ya'juj dan Ma'juj selalu membuat kerusakan di bumi. Karena itu mereka menawarkan sejumlah harta agar Dzulqarnain membangun penghalang di antara mereka.
Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa yang dimaksud adalah mereka ingin mengumpulkan harta dalam jumlah besar sebagai imbalan agar dibuatkan dinding pelindung.
Namun Dzulqarnain menolak pemberian tersebut seraya berkata bahwa kekuasaan yang Allah ta’ala berikan kepadanya jauh lebih baik daripada harta yang mereka kumpulkan. Ia hanya meminta bantuan tenaga dan alat-alat bangunan.
Mengenai potongan-potongan besi yang digunakan membangun dinding, Ibnu 'Abbas, Mujahid, dan Qatadah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah potongan-potongan besi berbentuk seperti bata.
Tentang kata qithr, Ibnu 'Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, adh-Dhahhak, Qatadah, dan as-Suddi mengatakan bahwa yang dimaksud ialah tembaga cair yang dituangkan di atas besi panas sehingga bangunan menjadi sangat kokoh.
Ya'juj dan Ma'juj
Ibnu Katsir menegaskan bahwa Ya'juj dan Ma'juj termasuk keturunan Nabi Adam.
Dalam kitab ash-Shahihain, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُول:ُ يَا آدَم،ُ فَيَقُول:ُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، فَيَقُول:ُ أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ، فَيَقُولُ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ فَيَقُولُ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَمِائَةٍ وَتِسْعَةٌ وَتِسْعُيْنَ إِلَى النَّارِ وَوَاحِدٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَحِينَئِذٍ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا، فَقَالَ: إِنَّ فِيكُمْ أُمَّتَيْنِ مَا كَانَتَا فِي شَيْءٍ إِلَّا كَثَّرَتَاهُ: يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ
Artinya : “Sesungguhnya Allah berfirman: "Hai Adam." Maka Adam menjawab: "Aku mendengar panggilan-Mu." Allah berfirman: "Keluarkan utusan Neraka." "Apa yang dimaksud dengan utusan Neraka itu?" tanya Adam.Dia menjawab: "Setiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan di antaranya menuju ke Neraka sedang satu orang lainnya masuk Surga. Maka pada saat itu, anak kecil akan beruban, dan setiap wanita hamil melahirkan kandungannya." Kemudian Dia berkata: "Sesungguhnya ditengah-tengah kalian ada dua ummat, tidaklah keduanya menempati sesuatu melainkan akan menjadikannya semakin banyak, yaitu Ya'juj wa Ma'juj.”
Dalam Musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Samurah, Rasulullah ﷺ bersabda:
وَلَدُ نُوحٍ ثَلَاثَةٌ: سَامُ أَبُو الْعَرَبِ، وَحَامُ أَبُو السُّودَانِ، وَيَافِثُ أَبُو التُُرْكِ
Artinya ; “Anak Nuh itu ada tiga: Saam Abul 'Arab (bapaknya orang Arab), Haam, Abus Sudan (bapaknya orang Sudan) dan Yafits Abut Turk (bapaknya orang Turki).”
Sebagian ulama berpendapat bahwa Ya'juj dan Ma'juj berasal dari keturunan Yafits, nenek moyang bangsa Turki. Wallahu a'lam.
Dinding yang Kokoh
Setelah dinding selesai dibangun, Allah ta’ala menjelaskan bahwa Ya'juj dan Ma'juj tidak mampu memanjat ataupun melubanginya.
Kemudian Dzulqarnain berkata bahwa dinding tersebut merupakan rahmat dari Allah ta’ala bagi manusia, tetapi apabila janji Allah ta’ala telah tiba, maka dinding itu akan dihancurkan dan diratakan dengan bumi. Janji Allah ta’ala pasti benar dan tidak mungkin diingkari.
Mengenai terbukanya dinding Ya'juj dan Ma'juj, Imam Ahmad meriwayatkan hadis berikut:
Imam Ahmad meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami, dari az-Zuhri, dari 'Urwah, dari Zainab binti Abi Salamah, dari Habibah binti Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dari ibunya, Ummu Habibah, dari Zainab binti Jahsy, isteri Nabi, Nabi pernah bangun tidur dengan muka merah, sedang beliau berucap: "Tidak ada Ilah (yang haq) selain Allah. Celaka bagi bangsa Arab karena sungguh telah dekat suatu keburukan. Pada hari ini telah terbuka sedikit dinding penyumbat Ya'juj dan Ma'juj, seperti ini," dan beliau membuat lingkaran. Kemudian kutanya: "Ya Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan sedang di tengah-tengah kami terdapat orang-orang shalih?" Beliau menjawab: "Ya, jika semakin banyak kejahatan dan keburukan."
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hadis tersebut berderajat sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, kisah Dzulqarnain menggambarkan sosok pemimpin mukmin yang menggunakan kekuasaan, ilmu, dan kekuatan semata-mata untuk menegakkan keadilan serta melindungi manusia dari kerusakan. Ia tidak tergiur oleh harta, melainkan mengutamakan amanah yang Allah ta’ala titipkan kepadanya. Kisah ini juga menegaskan bahwa seluruh kekuatan yang dimiliki manusia merupakan rahmat dari Allah ta’ala dan pada akhirnya segala sesuatu akan kembali kepada ketetapan-Nya. Janji Allah ta’ala tentang datangnya hari kiamat, keluarnya Ya'juj dan Ma'juj, serta hancurnya dinding itu adalah benar dan pasti terjadi.
Yuk, bergabung bersama Hanah Tour dan wujudkan impian beribadah di Tanah Suci bersama orang-orang tercinta.
Referensi : Tafsir ibnu katsir surat Al-Kahfi : 83-98
Ditulis oleh : Adzhan Mahdi, Lc
>>>>> HUBUNGI KAMI <<<<<