Pulang Umrah, Banyak Tamu Datang: Apa yang Perlu Dilakukan dan Doa Apa yang Dibaca?
Bagi sebagian besar jamaah Indonesia, kepulangan dari Tanah Suci bukan berarti perjalanan ibadah langsung berakhir. Sesampainya di rumah, biasanya keluarga, tetangga, sahabat, dan kerabat datang untuk bersilaturahmi. Mereka ingin menyambut kepulangan jamaah, mendengarkan cerita selama berada di Makkah dan Madinah, sekaligus memohon doa agar suatu saat dapat menyusul menjadi tamu Allah.
Tradisi seperti ini telah menjadi bagian yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Muslim di Indonesia. Namun, muncul pertanyaan: apa yang sebaiknya dilakukan jamaah setelah pulang umrah? Apakah ada doa khusus ketika menerima tamu? Dan benarkah orang yang baru pulang umrah memiliki doa khusus yang pasti dikabulkan?
Islam sangat menganjurkan silaturrahim dan mendoakan sesama Muslim. Akan tetapi, dalam masalah ibadah, kita perlu membedakan antara amalan yang memang memiliki tuntunan khusus dari Nabi ﷺ dan amalan yang secara umum dibolehkan karena termasuk doa dan kebaikan.
Pulang Umrah Bukan Akhir dari Ibadah
Umrah memang telah selesai setelah jamaah melakukan tahallul. Namun, semangat beribadah seharusnya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Tanah Suci.
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
“Orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka, niscaya Dia menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS. Muhammad: 2)
Ayat ini mengingatkan bahwa keimanan dan amal saleh harus terus dijaga. Karena itu, salah satu tanda yang diharapkan dari perjalanan umrah bukan sekadar bertambahnya kenangan tentang Makkah dan Madinah, tetapi juga bertambahnya semangat untuk melakukan kebaikan setelah kembali ke tengah masyarakat.
Ketika Tamu Datang Setelah Pulang Umrah
Kedatangan keluarga dan tetangga untuk bersilaturrahim merupakan kesempatan yang baik untuk mempererat hubungan.
Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa: 1)
Karena itu, jamaah yang baru pulang umrah tidak perlu merasa terbebani ketika ada tamu datang. Sambutlah mereka dengan baik sesuai kemampuan. Tidak harus menyediakan jamuan yang mewah atau mengeluarkan biaya besar.
Yang lebih penting adalah menjaga niat, keramahan, dan hubungan silaturrahim.
Begitu pula bagi tamu, kunjungan kepada orang yang baru pulang umrah sebaiknya tidak menjadi beban bagi tuan rumah. Silaturrahim dapat dilakukan secara sederhana, dengan mengucapkan selamat atas kepulangan, mendoakan kebaikan, dan memberikan kesempatan kepada jamaah untuk beristirahat.
Apakah Ada Doa Khusus untuk Orang yang Baru Pulang Umrah?
Pertanyaan ini cukup sering muncul.
Tidak ditemukan hadis sahih yang menetapkan satu doa tertentu yang wajib atau secara khusus harus dibaca oleh jamaah ketika menerima tamu setelah pulang umrah.
Namun, terdapat tuntunan yang sahih mengenai zikir ketika seseorang kembali dari perjalanan.
Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan :
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَفَلَ مِنَ الْجُيُوشِ أَوِ السَّرَايَا أَوِ الْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ، إِذَا أَوْفَى عَلَى ثَنِيَّةٍ أَوْ فَدْفَدٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا، وَيَقُولُ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ، صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.
“Rasulullah ﷺ apabila kembali dari peperangan, ekspedisi militer, haji, atau umrah, ketika beliau sampai di tempat yang tinggi atau melewati jalan yang menanjak, beliau bertakbir sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mengucapkan:
‘Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Kami adalah orang-orang yang kembali, bertaubat, beribadah, bersujud, dan memuji Tuhan kami. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh seorang diri.’” (HR. Bukhari no.1797 & Muslim no.1344)
Dengan demikian, ada tuntunan zikir ketika kembali dari perjalanan umrah. Akan tetapi, zikir tersebut berbeda dengan anggapan bahwa ada “doa khusus menerima tamu setelah pulang umrah” yang ditetapkan secara khusus oleh Nabi ﷺ.
Lalu, Doa Apa yang Bisa Dibaca untuk Tamu?
Di sinilah jamaah tidak perlu bingung.
Meskipun tidak ada doa khusus yang ditetapkan untuk kondisi tersebut, jamaah tetap boleh mendoakan tamu dengan doa-doa kebaikan.
Bahkan, mendoakan sesama Muslim merupakan amalan yang memiliki dasar yang kuat.
Allah SWT mengajarkan doa:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Jamaah juga dapat mendoakan keluarga dan orang-orang yang hadir dengan doa yang sederhana.
Misalnya:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي أَعْمَارِهِمْ وَصِحَّتِهِمْ وَأَهْلِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ، وَارْزُقْهُمُ الْعُمْرَةَ وَزِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ ﷺ
“Ya Allah, berkahilah umur mereka, kesehatan mereka, keluarga mereka, dan harta mereka. Karuniakanlah kepada mereka kesempatan untuk menunaikan umrah dan mengunjungi Baitullah serta Masjid Nabi-Mu ﷺ.”
Doa tersebut bukan hadis yang dinisbatkan kepada Nabi ﷺ. Ia adalah contoh susunan doa yang maknanya baik dan boleh dipanjatkan.
Jamaah juga dapat berdoa dengan bahasa Indonesia. Tidak ada keharusan menggunakan bahasa Arab ketika seseorang sedang memanjatkan doa umum di luar bacaan yang memang ditentukan dalam ibadah tertentu.
Bolehkah Mendoakan Agar Tamu Segera Menyusul Umrah?
Boleh.
Misalnya, seseorang yang baru pulang umrah didatangi keluarga dan tetangganya. Mereka kemudian meminta didoakan agar dapat segera berangkat ke Tanah Suci.
Jamaah dapat mendoakan:
“Ya Allah, mudahkanlah saudara-saudara kami ini untuk menjadi tamu-Mu. Berikan mereka rezeki yang halal dan luas, kesehatan, kesempatan, serta kemudahan untuk menunaikan ibadah umrah. Sampaikan mereka ke Baitullah dalam keadaan sehat, aman, dan mendapatkan umrah yang Engkau terima.”
Doa seperti ini termasuk doa yang baik.
Namun, hendaknya tidak diyakini bahwa doa orang yang baru pulang umrah pasti lebih mustajab atau bahwa terdapat ketentuan syariat yang menjadikan semua doa tersebut pasti dikabulkan.
Yang memiliki dasar adalah anjuran untuk mendoakan sesama Muslim. Nabi ﷺ bersabda bahwa doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya akan diamini oleh malaikat, dan malaikat tersebut mendoakan agar orang yang berdoa mendapatkan hal yang semisal. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim.
Hadis tersebut berbicara tentang doa untuk saudara sesama Muslim secara umum, bukan secara khusus tentang jamaah yang baru pulang umrah.
Jangan Sampai Tradisi Menjadi Beban
Silaturrahim setelah pulang umrah merupakan tradisi yang baik selama tidak disertai keyakinan atau ritual yang tidak memiliki dasar.
Jamaah tidak harus mengadakan acara besar hanya karena baru pulang dari Tanah Suci. Tidak pula harus menyediakan jamuan mahal untuk semua tamu.
Jika memiliki kemampuan, menjamu tamu tentu merupakan kebaikan. Namun, apabila seseorang hanya mampu menyediakan minuman atau makanan sederhana, hal itu sudah cukup.
Tujuan utama silaturrahim adalah mempererat hubungan, bukan menunjukkan kemewahan perjalanan.
Begitu pula dengan oleh-oleh. Kurma, air zamzam, tasbih, sajadah, atau buah tangan lainnya dapat menjadi bentuk perhatian kepada keluarga dan sahabat. Namun, pemberian tersebut tidak boleh menjadi beban yang membuat seseorang berutang atau memaksakan diri.
Doakan Mereka, Bukan Hanya Ceritakan Perjalanan
Ketika tamu datang, jamaah biasanya akan ditanya tentang pengalaman selama berada di Tanah Suci.
“Bagaimana di Makkah?”
“Bagaimana keadaan Masjid Nabawi?”
“Bisa masuk Raudhah?”
“Hotel dekat masjid?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan hal yang wajar.
Namun, ada sesuatu yang lebih indah daripada sekadar menceritakan pengalaman perjalanan: mendoakan orang-orang yang datang.
Apalagi jika di antara mereka terdapat orang tua, saudara, tetangga, atau sahabat yang sudah lama memiliki keinginan untuk menunaikan umrah tetapi belum mendapatkan kesempatan.
Doakan mereka dengan tulus.
Tidak perlu menjanjikan bahwa mereka pasti segera berangkat. Cukup panjatkan doa kepada Allah agar diberikan rezeki, kesehatan, kesempatan, dan kemudahan.
Sebab, yang membuka pintu rezeki dan memudahkan seseorang menjadi tamu Allah adalah Allah SWT.
Setelah Pulang, Jagalah Amal
Perjalanan umrah seharusnya menjadi momentum untuk melanjutkan kebaikan.
Jika sebelum umrah seseorang berusaha menjaga shalat, setelah pulang hendaknya semakin menjaga shalat.
Jika di Tanah Suci terbiasa membaca Al-Qur’an, kebiasaan tersebut jangan berhenti setelah kembali ke rumah.
Jika selama umrah belajar bersabar menghadapi kepadatan, antrean, panas, dan perbedaan karakter manusia, maka kesabaran itu juga perlu dibawa pulang.
Begitu pula dengan silaturrahim.
Jangan sampai seseorang begitu dekat dengan jamaah lain selama berada di Makkah dan Madinah, tetapi setelah pulang justru kembali menjauh dari keluarga dan tetangga.
Umrah semestinya membawa perubahan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pulang dari Tanah Suci, Membawa Kebaikan ke Rumah
Pada akhirnya, kepulangan dari umrah bukan sekadar berpindah tempat dari Makkah atau Madinah menuju rumah.
Ada sesuatu yang semestinya ikut dibawa pulang: semangat beribadah, rasa syukur, kesabaran, kerendahan hati, dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Ketika keluarga dan tetangga datang bersilaturrahim, sambutlah dengan senyuman. Jika mereka meminta doa, doakanlah dengan tulus. Jika mereka bertanya tentang perjalanan, ceritakanlah seperlunya tanpa berlebihan.
Dan yang tidak kalah penting, jangan merasa bahwa seseorang menjadi lebih mulia hanya karena telah menunaikan umrah. Kemuliaan di sisi Allah bukan semata-mata karena pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci, tetapi karena iman dan ketakwaannya.
Semoga setiap jamaah yang pulang dari umrah tidak hanya membawa oleh-oleh untuk keluarga, tetapi juga membawa pulang akhlak yang lebih baik dan semangat untuk terus beribadah.
Semoga Allah menerima ibadah umrah para jamaah, mengampuni dosa-dosa mereka, menjaga keluarga mereka, dan memberikan kesempatan kepada orang-orang yang belum pernah ke Tanah Suci untuk segera menjadi tamu-Nya.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ نَبِيِّكَ ﷺ، وَيَسِّرْ لَنَا وَلَهُمْ سَبِيلَ الْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami dan mereka kesempatan mengunjungi Baitullah dan Masjid Nabi-Mu ﷺ. Mudahkanlah bagi kami dan mereka jalan menuju kebaikan dan ketaatan.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Bagi Anda yang sedang mempersiapkan perjalanan umrah dan ingin mendapatkan pendampingan mulai dari persiapan, manasik, perjalanan hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, Hanah Tour siap menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.
Semoga Allah memudahkan langkah setiap calon tamu-Nya untuk memenuhi panggilan menuju Baitullah.
Ditulis oleh : Alfaqir Adzhan Mahdi, Lc (Divisi Syi’ar & Education Marketing Hanah Tour)