Sejarah Sumpah Pemuda: Mengapa Diperingati Setiap 28 Oktober?

Kategori : Umrah, Berita, Sejarah, Travel Umroh Lamongan, Sejarah Islam, Travel Umroh Gresik, Ditulis pada : 30 Oktober 2026, 14:27:32

Setiap tanggal 28 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan atau kegiatan seremonial di sekolah dan kantor pemerintahan. Di balik tanggal tersebut, terdapat sejarah perjuangan generasi muda yang berusaha menyatukan berbagai perbedaan demi mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah nasional karena memperlihatkan perubahan cara pandang para pemuda pada masa penjajahan. Mereka mulai menempatkan identitas Indonesia sebagai identitas bersama, melampaui ikatan daerah, suku, dan organisasi.

Lantas, bagaimana sejarah lahirnya Sumpah Pemuda? Mengapa tanggal 28 Oktober dipilih sebagai hari peringatannya? Dan apa relevansinya bagi generasi muda Indonesia saat ini?

  1. Latar Belakang Lahirnya Sumpah Pemuda

Untuk memahami sejarah Sumpah Pemuda, kita perlu melihat keadaan Indonesia pada awal abad ke-20. Pada masa itu, wilayah Nusantara masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Perlawanan terhadap penjajahan telah berlangsung di berbagai daerah, tetapi gerakan yang muncul sering kali masih berpusat pada kepentingan wilayah masing-masing.

Perkembangan pendidikan kemudian membuka kesempatan bagi sebagian masyarakat pribumi untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas. Dari lingkungan pendidikan tersebut tumbuh generasi terpelajar yang mulai memikirkan nasib bangsanya dan mencari cara untuk memperjuangkan perubahan.

Pada awal abad ke-20, berbagai organisasi mulai bermunculan. Sebagian bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, sedangkan organisasi lainnya berupaya memperjuangkan kepentingan masyarakat pribumi. Organisasi pemuda yang memiliki latar belakang daerah berbeda juga mulai berkembang, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan Jong Celebes.

Meskipun organisasi-organisasi tersebut memiliki identitas masing-masing, para pemuda semakin menyadari pentingnya kerja sama. Perjuangan yang terpisah-pisah dinilai sulit menghasilkan kekuatan besar untuk menghadapi kolonialisme.

Momon Abdul Rahman dan rekan-rekannya membahas pertumbuhan organisasi pemuda serta proses menuju persatuan nasional dalam buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional. Pembahasan mengenai tumbuhnya organisasi pemuda terdapat pada halaman 7–31, sedangkan pembahasan awal tentang Sumpah Pemuda dimulai pada halaman 35 (Rahman dkk., 2008, hlm. 7–35).

Dari perkembangan tersebut, lahir kesadaran bahwa masa depan Indonesia membutuhkan persatuan yang lebih luas daripada sekadar kesamaan daerah atau asal-usul.

  1. Kongres Pemuda I: Langkah Awal Menuju Persatuan

Sebelum Sumpah Pemuda dicetuskan pada 1928, para pemuda telah berusaha membangun komunikasi melalui Kongres Pemuda I yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia, sekarang Jakarta.

Kongres ini mempertemukan perwakilan berbagai organisasi pemuda. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama dan membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya persatuan dalam perjuangan nasional.

Namun, mewujudkan persatuan bukan perkara mudah. Setiap organisasi memiliki latar belakang dan pandangan masing-masing. Perbedaan pemikiran mengenai bentuk persatuan dan bahasa yang akan digunakan menjadi bagian dari proses diskusi para pemuda.

Walaupun belum menghasilkan ikrar kebangsaan seperti yang dikenal sekarang, Kongres Pemuda I menjadi langkah penting dalam perjalanan pergerakan nasional. Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa berbagai organisasi dapat duduk bersama untuk membicarakan kepentingan yang lebih besar.

Buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional membahas Kongres Pemuda Pertama secara khusus pada halaman 35–42 dalam edisi cetakan ketiga tahun 2008 (Rahman dkk., 2008, hlm. 35–42).

Pengalaman dari kongres pertama menjadi pelajaran berharga. Para pemuda membutuhkan bukan hanya pertemuan, melainkan juga kesepakatan yang mampu memperkuat identitas kebangsaan dan menyatukan arah perjuangan.

  1. Kongres Pemuda II dan Lahirnya Sumpah Pemuda

Upaya membangun persatuan berlanjut hingga Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Jakarta. Kongres ini digagas oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi yang menghimpun pelajar dari berbagai daerah.

Kongres berlangsung melalui tiga rapat di tempat berbeda. Setiap pertemuan membahas persoalan yang berkaitan dengan persatuan, kebangsaan, pendidikan, serta peran generasi muda dalam pergerakan nasional.

Pada rapat pertama, 27 Oktober 1928, pembahasan menekankan pentingnya persatuan dan kebangsaan Indonesia. Mohammad Yamin menjelaskan sejumlah faktor yang dapat memperkuat persatuan, termasuk sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan untuk bersatu.

Rapat kedua pada 28 Oktober 1928 membahas pendidikan. Pembicaraan menyoroti pentingnya pendidikan kebangsaan serta hubungan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan dalam keluarga.

Pada rapat ketiga, para peserta membahas nasionalisme, demokrasi, dan gerakan kepanduan. Sebelum kongres ditutup, Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya melalui permainan biola.

Kongres kemudian menghasilkan keputusan yang kelak dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan keputusan tersebut berkaitan dengan tiga pokok utama: tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Dalam buku karya Momon Abdul Rahman dan rekan-rekannya, uraian mengenai Kongres Pemuda Kedua terdapat mulai halaman 53. Bagian ini menjadi rujukan penting untuk memahami jalannya kongres dan lahirnya keputusan yang kemudian dikenang sebagai Sumpah Pemuda (Rahman dkk., 2008, hlm. 53–72).

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa persatuan Indonesia tidak muncul begitu saja. Persatuan dibangun melalui diskusi, perbedaan pendapat, dan kesediaan untuk menempatkan cita-cita bersama di atas kepentingan kelompok.

  1. Apa Isi dan Makna Sumpah Pemuda?

Sumpah Pemuda dikenal melalui tiga ikrar yang menegaskan kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa.

Pertama, bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Ikrar ini menyatakan bahwa berbagai wilayah di Nusantara merupakan bagian dari satu tanah air. Perbedaan asal daerah tidak menghapus keterikatan terhadap Indonesia sebagai tempat hidup dan perjuangan bersama.

Kedua, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Pernyataan ini menegaskan identitas kebangsaan yang melampaui batas kesukuan dan kedaerahan. Masyarakat dari latar belakang berbeda dapat menjadi bagian dari bangsa yang sama, dengan tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama.

Ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi yang menghubungkan masyarakat dari berbagai daerah. Pengakuan terhadap bahasa persatuan memperkuat hubungan antarkelompok dan membantu membangun identitas nasional.

Ketiga ikrar tersebut saling berkaitan. Tanah air memberikan ruang kebersamaan, identitas bangsa membangun rasa memiliki, dan bahasa persatuan memungkinkan masyarakat saling memahami.

Museum Sumpah Pemuda menjelaskan bahwa keputusan Kongres Pemuda II menegaskan persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia sebagai dasar kebangsaan. Naskah keputusan tersebut juga dapat dibaca melalui laman resmi Museum Sumpah Pemuda.

  1. Mengapa Sumpah Pemuda Diperingati Setiap 28 Oktober?

Tanggal 28 Oktober diperingati karena pada tanggal tersebut, tahun 1928, Kongres Pemuda II menghasilkan keputusan yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Peristiwa itu menjadi simbol penting dari tekad generasi muda untuk membangun persatuan Indonesia.

Namun, tanggal peristiwa bersejarah dan penetapan hari peringatannya merupakan dua hal yang berbeda. Kongres Pemuda II berlangsung pada 1928, sedangkan penetapan 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda dilakukan pemerintah pada 1959.

Dasar penetapannya adalah Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur, yang ditetapkan pada 16 Desember 1959. Keputusan tersebut mencantumkan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober sebagai salah satu hari nasional yang bukan hari libur.

Dengan demikian, peringatan Hari Sumpah Pemuda memiliki dasar historis sekaligus dasar hukum. Peringatan ini dimaksudkan untuk menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap perjuangan pemuda dalam membangun persatuan nasional.

Peringatan tersebut juga mengingatkan masyarakat bahwa persatuan tidak cukup hanya diucapkan. Nilai persatuan perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, kerja sama, dan tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa.

  1. Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap Pergerakan Nasional

Sumpah Pemuda memberikan penguatan terhadap gagasan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan perlu dilaksanakan dengan semangat kebangsaan yang menyatukan berbagai kelompok.

Sebelum lahirnya ikrar tersebut, organisasi pemuda banyak tumbuh berdasarkan latar belakang daerah. Setelah Kongres Pemuda II, gagasan tentang satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan semakin kuat menjadi bagian dari identitas gerakan nasional.

Momon Abdul Rahman dan rekan-rekannya membahas pengaruh Sumpah Pemuda dalam bab tersendiri pada halaman 73–84 buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional. Pembahasannya mencakup tumbuhnya semangat kebangsaan, arah pergerakan, penyebaran lagu Indonesia Raya, dan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (Rahman dkk., 2008, hlm. 73–84).

Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam buku tersebut terdapat pada halaman 79:

“Sumpah Pemuda jangan semata-mata dilihat sebagai barisan kata-kata.”

Kutipan tersebut mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda tidak seharusnya dipahami hanya sebagai rangkaian kalimat yang dihafalkan saat upacara. Ikrar tersebut mengandung tekad untuk membangun persatuan dan menjalankan perjuangan secara bersama-sama.

Pengaruh Sumpah Pemuda juga dapat dilihat dari semakin kuatnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana membangun hubungan di antara masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

  1. Relevansi Sumpah Pemuda bagi Generasi Muda Masa Kini

Lebih dari sembilan dekade setelah Kongres Pemuda II, pesan persatuan tetap relevan bagi generasi muda Indonesia. Tantangan yang dihadapi sekarang memang berbeda dari masa kolonial, tetapi kebutuhan untuk membangun kerja sama dan menjaga persatuan tetap penting.

Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh teknologi, media sosial, dan arus informasi yang cepat. Kondisi tersebut membuka kesempatan untuk belajar, berkomunikasi, dan berkolaborasi dengan masyarakat dari berbagai daerah.

Di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi tempat berkembangnya informasi palsu, ujaran kebencian, dan perdebatan yang memperbesar perbedaan. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda dapat diterapkan dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi, menghargai pandangan yang berbeda, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.

Persatuan juga perlu diwujudkan melalui tindakan sehari-hari. Menghormati teman yang berbeda latar belakang, bekerja sama dalam kegiatan sosial, menjaga fasilitas umum, dan berpartisipasi dalam pendidikan merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan oleh generasi muda.

Semangat kebangsaan bukan berarti menghapus semua perbedaan. Justru, persatuan menjadi kuat ketika masyarakat mampu hidup bersama dengan saling menghormati tanpa kehilangan identitas masing-masing.

  1. Menjaga Semangat Sumpah Pemuda melalui Pendidikan dan Pengabdian

Pendidikan memiliki peran penting dalam meneruskan nilai-nilai Sumpah Pemuda. Sekolah, pesantren, perguruan tinggi, keluarga, dan lingkungan masyarakat dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap bangsa.

Generasi muda perlu mempelajari sejarah bukan hanya untuk mengingat nama tokoh dan tanggal peristiwa, tetapi juga untuk memahami proses lahirnya persatuan. Dari sejarah tersebut, mereka dapat belajar bahwa perbedaan pendapat tidak selalu menghalangi kerja sama.

Pengabdian kepada masyarakat juga merupakan salah satu cara meneruskan semangat para pemuda 1928. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dapat digunakan untuk membantu sesama, mengembangkan lingkungan, serta menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dalam konteks ini, semangat Sumpah Pemuda dapat diterapkan oleh siapa pun, baik pelajar, mahasiswa, pendidik, pekerja, pengusaha, maupun anggota masyarakat lainnya.

Menambah Wawasan dan Memperluas Pengetahuan Bersama Hanah Tour

Semangat persatuan dapat tumbuh melalui pendidikan, dialog, dan kebiasaan untuk terus belajar. Memperluas wawasan membantu kita memahami masyarakat dengan lebih baik serta membangun sikap yang bijaksana dalam menghadapi perbedaan.

Bagi pembaca yang ingin menambah pengetahuan Islam, memahami tuntunan ibadah, dan memperoleh informasi seputar perjalanan umrah, website Hanah Tour menyediakan artikel edukatif yang dapat dijadikan bahan bacaan tambahan. Kebiasaan belajar dan memperbaiki diri merupakan bagian dari upaya memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Penutup: Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Peringatan Tahunan

Sejarah Sumpah Pemuda memperlihatkan bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui proses panjang. Para pemuda dari berbagai organisasi belajar mengesampingkan perbedaan dan merumuskan cita-cita bersama yang melampaui kepentingan kelompok.

Tanggal 28 Oktober diperingati untuk menjaga ingatan terhadap peristiwa bersejarah tersebut sekaligus mengingatkan generasi masa kini akan pentingnya persatuan, identitas kebangsaan, dan bahasa Indonesia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda akan lebih bermakna apabila tidak berhenti pada upacara dan slogan. Nilai-nilainya perlu diwujudkan melalui pendidikan, sikap saling menghormati, kerja sama, dan pengabdian kepada masyarakat.

Mari jadikan Sumpah Pemuda sebagai pengingat bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bersatu. Dengan menjaga persatuan dan mengambil peran positif sesuai kemampuan masing-masing, generasi muda dapat turut membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

Wujudkan Niat Suci Anda Bersama Hanah Tour

Jangan biarkan keterbatasan waktu dan kesempatan menghalangi langkah Anda untuk bertamu ke Rumah Allah. Bersama Hanah Tour, kami siap mendampingi setiap tahapan perjalanan ibadah Umrah Anda dengan layanan yang amanah, nyaman, dan sesuai tuntunan sunnah. Percayakan perjalanan spiritual Anda dan keluarga kepada kami, karena selagi Anda berniat dan berusaha, Allah SWT akan membukakan jalannya. Hubungi tim Hanah Tour sekarang juga untuk konsultasi dan pemesanan jadwal keberangkatan Anda!

Selamat Hari Sumpah Pemuda! Bersatu dalam keberagaman, bergerak bersama untuk Indonesia.

Referensi

  1. Rahman, Momon Abdul, Darmansyah, Suswadi, Sri Sadono Wiyadi, dan Misman. Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional. Cetakan ketiga. Jakarta: Museum Sumpah Pemuda, 2008.
  2. Museum Sumpah Pemuda. “Sejarah Sumpah Pemuda.” Laman resmi Museum Sumpah Pemuda, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
  3. Museum Sumpah Pemuda. “Memaknai Sumpah Pemuda.” Laman resmi Museum Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019.
  4. Sari, Ajeng Priska, Alya Nataly, Esa Indriani Br Bangun, Rosmaida Sinaga, dan Siti Julaiha. “Peran Sumpah Pemuda dalam Mempersatukan Organisasi Pergerakan Nasional.” Journal on Education, Vol. 6, No. 3, 2024, hlm. 17351–17362.
  5. Republik Indonesia. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Ditetapkan di Jakarta, 16 Desember 1959.

Ditulis oleh : Alfaqir Adzhan Mahdi, Lc (Divisi Syi’ar & Education Marketing Hanah Tour)

 

>>>>> HUBUNGI KAMI <<<<<

 

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

Chat Dengan Kami
built with : https://safar.co.id